catatan pertama si kucing

kaki si kucing

Selama ini saya hanya jadi pembaca pasif. Meninggalkan komentar pun tidak. Sampai akhirnya saya nyasar disini dan menerbitkan artikel tulisan abal-abal. Intip profil penghuni disana, kebanyakan menyertakan alamat blog-nya. Tulisannya bagus-bagus. Yang lucu, menggemaskan dan tidak sedikit pula yang menjadi inspirasi serta motivasi buat saya.

Sebelumnya saya masih bertahan disana yang sudah seperti menjadi one stop entertainment site. Penulis bagus banyak disana tanpa perlu susah payah blogwalking, memberi komentar dan merusuh sambil sesekali menerbitkan artikel tulisan abal-abal. Tapi setelah dipikir-pikir dan diintimidasi pihak tertentu, jadilah saya memutuskan untuk memiliki blog.

Membuat blog ini ibaratnya menjilat ludah sendiri memakan kembali ucapan saya sebelumnya. Saya pikir untuk memiliki blog yang baik itu, pemilik blog harus punya konsistensi dan tanggung jawab yang baik atas isi blog-nya. Konsistensi untuk merawat dengan baik isi blog-nya supaya tidak terlantar. Juga tanggung jawab atas apa yang telah diterbitkan untuk dibaca bebas oleh umum. Dan dari dua hal itu, saya tidak memiliki poin yang pertama.

Ya sudahlah, toh akhirnya saya buat juga blog abal-abal disini. Dan tulisan ini jadi langkah kecil pertama saya. Mari kita lihat sampai dimana langkahnya nanti. Apakah terhenti di separuh jalan atau akan menjelajah dunia yang tak berujung?

Bismillah …

Ditulis pada catatan si kucing | 88 Komentar

Dua Puluh Tujuh

Yah katakanlah beberapa bulan lalu setelah kejadian bosan hidup itu bikin saya ketar ketir menjelang nambah umur. Quarter life crisis? Bisa jadi. Jangan kira hanya remaja saja melabil mencari jati diri. Toh umur ndak menjadi jaminan menjadi dewasa dan bijaksana. Cemas menjadi-jadi apalagi ditakut-takuti dengan angka 27 yang menjelang.

Tahu 27 club? Kutip sedikit dari www.wikipedia.org :

also occasionally known as the Forever 27 Club, Club 27 or the Curse of 27—is the title for a group of popular musicians who all died at the age of 27

Hadeuh, gimana ga tambah serem. Umur kritis, rawan dipanggil Tuhan :’( Eh, tapi hanya berlaku buat orang tenar ya. Kalo rakyat jelata semacam saya tidak dikutuk hal seperti itu kan? Kan? Kan? *mencari dukungan*

Seperti biasa saya terlalu cemas untuk hal yang belum terjadi sampai gelap mata dan hampir saja ndak melihat kalau saya kan ndak hidup sendirian. Masih ada keluarga dan teman-teman di sekitar saya yang mendukung dan (mudah-mudahan) melimpahkan rasa sayang dengan tulus. Pastinya nanti ada masa saya tersandung jatuh dan  sulit untuk berdiri tegak kembali. Tapi dengan semua ucapan selamat dan doa yang disampaikan di hari ulang tahun kemarin, rasanya tidak ada yang perlu ditakutkan karena saya punya semua yang saya butuhkan. Tuhan, keluarga dan teman-teman tersayang.

Terimakasih ya :)

Ditulis pada catatan si kucing | 1 Komentar

Bikin Hidup Lebih Hidup

‘Lo ngerasa bosan hidup ga sih?’

Hampir saya tersedak roti isi yang sedang saya santap saat menghabiskan waktu istirahat siang bersama teman semasa kuliah yang kebetulan bertemu  di kantor klien. Saya letakkan roti di piring dan mengarahkan pandangan dengan serius.

‘Bosan gimana? Lo bukan mau mati kan?’ tanya saya prihatin. Teman saya tertawa terbahak.

‘Bukan itu maksud gue. Abisnya ngerasa waktu tuh lewat cepat banget. Hidup udah kayak rutinitas. Bangun pagi, kerja, urus ini itu, nunggu gajian, terus dihabisin buat belanja, nonton, makan-makan. Udah gitu aja. Ga kayak dulu waktu masih kuliah. Rasanya gue masih punya passion’

Saya cuma diam sambil meresapi uneg-unegnya. Jujur saja, saya pun merasa seperti itu. Waktu rasanya berlalu cepat tanpa arti. Sibuk kejar-kejaran dengan waktu dan ndak akan pernah menang. Padahal waktu yang tersedia dalam satu hari 20 tahun yang lalu ya sama saja dengan satu hari saat ini, 24 jam. Tapi selalu merasa ndak pernah cukup. Apa karena manajemen waktu saya (dan teman) tidak cukup baik?

Waktu istirahat berakhir menyisakan kegalauan akibat beban pikiran masing-masing. Hingga suatu saat saya bicarakan dengan Mya perihal ini. ‘Ah itu hanya kalian saja yang tidak bisa mengapresiasi pencapaian saat ini’. Saya bengong sejenak mendengar tanggapan beliau.

Dengan kata lain kami, saya dan teman yang bosan hidup itu karena kurang bersyukur. Kurang lebih saya paham esensi  bersyukur dan selalu berusaha untuk bersyukur. Sampai suatu saat di sesi latihan gentle flow, dimana instrukturnya lebih banyak ngomong daripada latihan asana, dia berkata ‘Ada masanya kita harus berusaha melewati batas kemampuan tapi kita juga harus tahu kapan untuk merelakan usaha itu karena keterbatasan yang kita miliki’ Hmmm, kontradiksi ndak sih? Tapi kalau kembali ke ajaran yang saya yakini ya ada benarnya juga. Antara keseimbangan usaha (ikhtiar) dan doa (tawakkal).

Introspeksi diri dengan ‘usaha’ saya untuk bersyukur dengan cara memandang ke bawah dan melihat ketidakberuntungan orang lain. Memalukan. Perlahan saya coba melepaskan diri dari pikiran negatif yang menghakimi diri sendiri. Mencukupkan apa yang saya butuhkan dengan apa yang saya punya saat ini. Memaafkan kesalahan yang telah saya perbuat di masa yang lalu dan ndak ambil pusing dengan hal yang belum terjadi. Saya hidup untuk saat ini.

Tahu law of attraction? Saya rasa hal itu yang terjadi belakangan ini. Hal-hal positif datang saat saya juga berfikir tentang hal yang positif.  Kadang malah terasa sesak dengan hal-hal baik yang datang tanpa saya kira. Hal-hal baik yang ingin saya bagi dan kembalikan ke orang-orang di sekitar saya agar bisa sama-sama merasakan manfaatnya.

Alhamdulillah (ga pake yah) sudah ndak lagi ngomong dengan kurang ajarnya ‘Gue juga bosan hidup’ :D

Ditulis pada catatan si kucing | 5 Komentar

Teater Koma : Sie Jin Kwie (Kena Fitnah)

Hari Kamis, 10 Maret yang lalu saya menyaksikan pertunjukan Teater Koma atas ajakan dari tante bersama dengan 3 orang temannya. Janjian ketemu usai jam kerja di depan lobby Graha Bakti Budaya untuk mengambil tiket pertunjukan yang telah dipegang tante.

Sedikit was was memasuki kawasan Taman Ismail Marzuki karena tidak tahu pasti letak Graha Bakti Budaya tempat pertunjukan teater hari itu. Setelah meyakinkan diri lokasi yang dimaksud bersebelahan dengan bioskop 21, barulah menyempatkan untuk mampir mengisi perut. Bersiap-siap dengan pertunjukan yang konon katanya memakan waktu hingga 4 jam. Begitu bertemu dengan tante dan juga teman-temannya, raut muka kami terlihat sama. Sama-sama panik, maksudnya :P Khawatir mengantuk, khawatir tidak mengerti jalan cerita, khawatir bosan di tengah pertunjukan, khawatir kalau-kalau di tengah pertunjukan mau ke toilet tapi ga dikasi ijin keluar masuk ruangan :lol: Pokoknya khawatir ndak jelas karena kami hanya penonton iseng yang tidak mengenal dunia teater sama sekali.

Kami berlima menempati seat baris I nomor 24 sampai dengan 27. Bukan pilihan yang buruk kok mengingat di baris tersebut pun cukup nyaman dan jelas untuk melihat pertunjukan di panggung. Sebagian besar kursi di baris VVIP dan VIP pun telah terisi. Sepertinya pertunjukan yang digelar Teater Koma dalam rangka merayakan ulang tahun grup yang ke 34 ini laris manis. Sebelumnya kami mencoba reservasi tiket untuk akhir pekan tapi seat yang tersisa hanya di bagian wing kanan dan kiri. Kurang nyaman lah ya, jadi tidak ada pilihan lain lagi selain menyempatkan diri di tengah hari kerja.

Pertunjukan dibagi menjadi 2 sesi dengan jeda sekitar 20 menit (kalau ndak salah ingat :P ). Di antara waktu istirahat tersebut penonton dipersilakan untuk menikmati snack dan minuman hangat yang dijajakan secara sederhana di luar tempat pertunjukan. Celingukan saya melihat penampilan para penonton yang hadir malam itu. Nyeni banget :lol: Tapi paling ndak kekhawatiran yang ndak beralasan itu sudah hilang. Toh di tengah waktu jeda masih ada antusiasme untuk menuntaskan sajian pertunjukan teater.

Awal pertunjukan dibuka dengan wayang Tavip yang menyampaikan narasi awal mula kisah Sie Jin Kwie. Sesekali kami kebingungan dengan penyampaian cerita yang dicampur dengan bahasa Jawa. Terselip pula guyonan khas Teater Koma, sindiran dan celetukan sarkas nan sinis untuk pemerintah :lol: Make up dan kostum para pemain serta setting panggung yang megah mampu menyihir penonton untuk kembali ke masa Dinasti Tang pada abad ke 7. Kostum dan make up karakter favorit saya adalah Thio Bie Jin. Karakter antagonis yang diperankan oleh Sari Madjid.

Tapi bintang panggung yang jadi kesayangan penonton malam itu adalah Thio Jin (Salim Bungsu). Kehadirannya di panggung selalu saja menyita perhatian dan memancing gelak tawa :lol: Ndak lupa pula saya sukses terhipnotis pesona sang jenderal gagah yang kena fitnah, Sie Jin Kwie (kyaaaa, Rangga :oops: )

Nyatanya kami (eh saya) adalah orang awam yang bener-bener ndak paham teater, sepulangnya dari pertunjukan ini saya ndak mampu mengingat nama-nama dari masing-masing karakter. Untuk kembali menuliskan artikel ini pun masih mengandalkan booklet yang dibagikan di awal pertunjukan juga hasil googling sana-sini.

Jadi masih belum pantas bagi saya untuk nulis semacam review (lha nama-nama karakter aja ndak ingat blas), hanya berbagi pengalaman baru saja. Dan ndak sabar deh ingin menyaksikan pertunjukan dari Teater Koma yang lainnya :)

Ditulis pada tontonan si kucing | Di-tag , | 2 Komentar

Memilah Pikiran

Sesi yang paling menyenangkan dari kelas Mind & Body ada di bagian akhir, meditasi. Tidur terlentang di tengah ruangan diiringi musik yang menenangkan dan beralaskan matras yoga yang lembab karena tetesan keringat hasil latihan selama 50 – 55 menit. Satu per satu lampu dimatikan dan instruktur membimbing untuk berkonsentrasi pada pernafasan.

Mudah. Tarik nafas. Buang nafas.

Tapi dari seluruh sesi latihan di kelas Mind & Body, bagian ini lah yang tersulit. Saya tidak pernah berhasil memusatkan konsentrasi hanya pada pernafasan. Justru pikiran saya melayang-layang ke luar ruangan. Entah itu pekerjaan, rencana kegiatan yang akan saya lakukan esok hari atau memikirkan akan naik apa sepulang dari latihan nanti. Ribet.

Apa ya istilahnya? Over thinking? Selalu saja memikirkan hal yang sebenarnya tidak/belum perlu dipikirkan saat itu. Ndak heran kan kalau kepala rasanya terlalu penuh lalu berujung stres hanya karena masalah yang relatif sepele. Saat kondisi seperti ini malah ndak bisa maksimal dan ndak benar-benar fokus dalam menyelesaikan masalah atau mencari solusi.

Pernah mengalami kesulitan tidur karena banyak pikiran (baca: masalah)? Sering? Sama dong :p Padahal setelah lelah semalaman ndak tidur nyenyak tapi juga ndak dapat jalan keluar dari masalah yang dipikirkan. Jadi kesal sendiri karena menyia-nyiakan waktu istirahat tanpa hasil pula lagi.

Makanya sekarang saya coba melatih pikiran untuk lebih tertib. Ndak boleh seenaknya mendesak minta didahulukan. Beberapa hal yang saya coba lakukan adalah dengan menyusun skala prioritas masalah yang perlu diselesaikan dan membuang jauh masalah sepele yang tidak perlu dipikirkan. Bukan lari dari masalah lho, ya. Hanya menunda untuk sementara sampai kapasitas otak lebih nyaman untuk menangani masalah yang ada.

Berhasil ndak? Belum, masih dilatih. Paling ndak pikiran saat meditasi jadi lebih fokus. Meskipun sesekali masih berkelana ke meja makan di rumah karena kelaparan sehabis sesi latihan.

Ditulis pada catatan si kucing | 5 Komentar

Tom Yam ala Nigella

Gara-gara ngubek-ngubek situsnya foodnetwork untuk nyari resep chocolate muffin kemarin, saya malah nemu resep ini. Jadilah kepikiran sepanjang hari sambil mburuh, membayangkan asam pedas dan hangat gurihnya kaldu ikan berpadu udang *iler netes netes*. Daripada kempunan alias kepikiran terus malah celaka di jalan, jadilah menyempatkan diri belanja bahan-bahan yang diperlukan sepulang dari mburuh.

Belanja ini itu di supermarket dekat rumah dan segera pulang. Begitu sampai di rumah, ndak pake ganti baju langsung cuci tangan dan menyiapkan wajan. Dan berikut yang dilakukan:

Tumis segenggam bawang merah yang digiling kasar, seruas besar lengkuas yang diiris tebal dan dimemarkan juga tiga batang serai yang ujungnya dimemarkan. Tumis sampai wangi dan masukkan sekitar 1,5 liter air (kayaknya lebih dari segini) lalu cemplungkan potongan fillet ikan marlin dan udang yang dikupas bersih. Tambahkan daun salam (saya pakai bay leave, ndak ada daun salam ternyata) dan daun jeruk yang disobek-sobek juga segenggam asam/tamarin yang segar (buang kulitnya ya). Masak di api kecil.

Siapkan bahan yang lain antara lain cabe merah keriting yang diiris serong (buang bijinya biar ndak terlalu pedes), potongan tomat, jamur kancing alias champignon dan potongan bok choy. Setelah rebusan mendidih, bumbui dengan 3 sdm kecap ikan, 2 sdm bumbu kari ala Thai siap pakai, 1/2 sdt bubuk kunyit atau seruas kunyit segar yang dimemarkan dan 2 sdt gula. Masukkan potongan tomat, jamur dan sayur juga santan 200 ml. Aduk terus hingga mendidih. Tambahkan daun kemangi saat akan dihidangkan.

Selamat makan :mrgreen: *elap keringat*

ps: setelah dicoba sepertinya kurang bumbu seperti biji ketumbar dan juga rasanya lebih segar kalau tanpa santan. yah, mari diulang lagi di lain kesempatan :D

pps: oh ya, jangan lupa angkat dan buang asam/tamarin, bay leave dan daun jeruknya. kelamaan di dalam sup, jadinya malah pahit atau berubah rasa :mrgreen:

Ditulis pada si kucing nge-dapur | Di-tag , , | 10 Komentar

Baking : Chocolate Muffin

Belakangan lagi tergila-gila dengan muffin gara-gara side dish di menu pilihan franchise ayam panggang punya penyanyi lawas. Pengin nyoba manggang sendiri untuk sarapan dan ternyata ndak pake ribet membuat muffin sendiri. Apalagi bahan yang diperlukan pun ndak aneh-aneh.

Pertama kali nyoba bikin cheese muffin tapi gagal. Terlalu kering, ntah kekurangan susu atau mentega atau kebanyakan pake baking powder. Pernah juga nyobain resepnya Gula-Gula tapi jadinya terlalu manis … urgh. Hampir patah semangat, tapi masih penasaran pingin coba lagi mumpung ada sisa tepung dan chocolate chip. Gugling gugling dan dapatlah resep dari Nigella Lawson, tukang masak favorit saya yang punya acara Nigella Bites di AFC.

Cek maricek ke dapur dan kulkas, ternyata bahannya yang diperlukan ada semua. Dan berikut yang saya pakai untuk eksperimen muffin cokelat kali ini :

Gabungkan bahan kering dalam baskom, antara lain 1 3/4 cups tepung terigu cakra, 5 sdt coklat bubuk,  2 sdt baking powder, 1/2 sdt baking soda, 1 sdt ekstrak vanili, 7 sdt gula pasir, chocolate chip secukupnya (jangan lupa sisakan sedikit untuk taburan).

Lalu di gelas ukur campurkan bahan basah 3/4 cup mentega yang dicairkan, 1 cup susu cair dan 2 telur yang sudah dikocok lepas (pake dua telur, yang satu ayam kampung dan satu lagi ayam negeri. kenapa pake dua? ngabisin stok telur di kulkas :mrgreen: ).

Tuang campuran bahan basah ke dalam baskom berisikan campuran bahan kering lalu aduk rata. Jangan terlalu banyak diaduk karena katanya yang udah ahli di dunia per-muffin-an hasil akhir panggangan muffin jadi kurang bagus.

Siapkan loyang muffin, oles mentega atau kasi cup kertas sebelum adonan dibagi. Jangan terlalu penuh isi loyangnya, ya kira-kira tigaperempat karena adonan bakal mengembang. Masukkan loyang ke oven yang sudah dipanaskan sebelumnya di suhu 200 derajat celcius dan panggang sekitar 20 menit atau sampai matang.

Hasilnya? Ya, lumayanlah. Teksturnya empuk mirip cake tapi terlalu manis ya padahal gulanya cuma pake 7 sendok teh. Baiklah, lain kali kurangi lagi pemakaian gula :D

Selamat mencoba ;)

Ditulis pada si kucing nge-dapur | Di-tag , | 5 Komentar

Vertige : Cliffhanger rasa Perancis

Lima orang pemuda pemudi harapan bangsa berniat untuk mendaki gunung Risjnak yang terletak di Kroasia. Fred, Karine, Chloe dan Guillame telah berteman lama bahkan Chloe dan Guillaume sempat merenda kasih sebelum akhirnya bubar jalan dan tidak bertemu satu sama lain selama 4 tahun. Situasi bertambah rancu karena Chloe saat itu membawa serta pacarnya, Loic, dalam misi pendakian gunung Risjnak.

Sesampainya di kaki gunung ternyata jalur pendakian tertutup reruntuhan batu dan tidak bisa dilewati. Tidak hilang akal, Fred nekat memotong jalan dan meneruskan pendakian. Anggota rombongan yang lain pun terpaksa mengikuti keputusan nekat Fred, si ketua rombongan, yang terus menerus meyakinkan mereka bahwa jalur pendakian ini akan berlangsung aman dan menyenangkan.

Mereka terlihat begitu menikmati pendakian itu, terutama Fred yang sangat percaya diri dan gembira dapat melintasi jembatan gantung terpanjang di Eropa. Hanya Loic yang tampak memucat dan setengah mati mengeluarkan seluruh kemampuan dan keberaniannya agar terlihat jantan di mata Chloe. Musibah berawal saat Karine yang mendapat giliran terakhir melintasi jembatan gantung. Kabel jembatan gantung terputus sedangkan Karine masih berada di tengah jembatan. Saat itu nyawanya hanya bergantung pada seutas lifeline yang juga tak akan bertahan lama.

Tenang saja, Karine selamat sampai ke seberang. Tapi sampai di bagian ini mereka harus terus melanjutkan perjalanan hingga ke gondola untuk menuruni gunung. Tidak ada jalan kembali. Dan percayalah, adegan jembatan gantung itu hanya appetizer dari sisa adegan-adegan menegangkan dalam film ini. Situasi menjadi semakin seru begitu rombongan pendaki ini menyadari bahwa mereka tidak sendiri. Ada sesuatu yang mengincar keberadaan mereka. Iblis yang lahir di ketinggian lebih dari 3000 kaki.

Film berdurasi 90 menit ini mengalir cepat. Adegan aksi yang bikin penonton meringis dan menjerit ngeri terus disajikan tanpa ampun. Sesekali penonton diberi jeda untuk menarik nafas lalu kembali memacu jantung menyaksikan para karakter memperjuangkan hidup mereka. Film ini terasa lebih seru begitu mengetahui keseluruhan film dilakukan langsung oleh para pemain film tanpa pemain pengganti. Hal tersebut dijelaskan sang sutradara, Abel Ferry, yang menyempatkan hadir dan memberikan sambutan dalam bahasa Indonesia yang terpatah-patah sebelum film ditayangkan.

Saya belum pernah menyaksikan film Perancis dengan genre horror, thriller atau semacamnya. Begitu melihat trailer film, saya pikir bakal mirip dengan salah satu film Sylvester Stallone berjudul Cliffhanger. Tapi lagi-lagi saya salah sangka. Lebih tepat kalau disebut Cliffhanger ketemu Jason Voorhees ditambah cita rasa Perancis. Rasanya lumayan juga. Walau ada beberapa hal yang menggangu:

1. Kenapa juga mesti alih bahasa jadi inggris? Ndak enak didengar.

2. Adegan aksi penuh laga yang berdarah-darah tapi lucunya ndak ada memar atau lebam.

3.  Lucu liat para pendaki ini. Mau mendaki gunung yang tingginya 1500-an meter tapi perlengkapan minim, cuman backpack yang kalah gede dengan tas ransel anak SD :p

4. Penonton di kiri kanan saya mengganggu buanget. Yang kanan heboh melihat jagoannya yang cakep sedang berjuang hidup. Yang sebelah kiri? Heboh bergoyang ke kanan ke kiri sambil jerit-jerit … bahkan untuk adegan yang sebenarnya ndak serem sama sekali *asah parang*

Ditulis pada tontonan si kucing | Di-tag , , | Tinggalkan Komentar