Baking : Chocolate Muffin

Belakangan lagi tergila-gila dengan muffin gara-gara side dish di menu pilihan franchise ayam panggang punya penyanyi lawas. Pengin nyoba manggang sendiri untuk sarapan dan ternyata ndak pake ribet membuat muffin sendiri. Apalagi bahan yang diperlukan pun ndak aneh-aneh.

Pertama kali nyoba bikin cheese muffin tapi gagal. Terlalu kering, ntah kekurangan susu atau mentega atau kebanyakan pake baking powder. Pernah juga nyobain resepnya Gula-Gula tapi jadinya terlalu manis … urgh. Hampir patah semangat, tapi masih penasaran pingin coba lagi mumpung ada sisa tepung dan chocolate chip. Gugling gugling dan dapatlah resep dari Nigella Lawson, tukang masak favorit saya yang punya acara Nigella Bites di AFC.

Cek maricek ke dapur dan kulkas, ternyata bahannya yang diperlukan ada semua. Dan berikut yang saya pakai untuk eksperimen muffin cokelat kali ini :

Gabungkan bahan kering dalam baskom, antara lain 1 3/4 cups tepung terigu cakra, 5 sdt coklat bubuk,  2 sdt baking powder, 1/2 sdt baking soda, 1 sdt ekstrak vanili, 7 sdt gula pasir, chocolate chip secukupnya (jangan lupa sisakan sedikit untuk taburan).

Lalu di gelas ukur campurkan bahan basah 3/4 cup mentega yang dicairkan, 1 cup susu cair dan 2 telur yang sudah dikocok lepas (pake dua telur, yang satu ayam kampung dan satu lagi ayam negeri. kenapa pake dua? ngabisin stok telur di kulkas :mrgreen:).

Tuang campuran bahan basah ke dalam baskom berisikan campuran bahan kering lalu aduk rata. Jangan terlalu banyak diaduk karena katanya yang udah ahli di dunia per-muffin-an hasil akhir panggangan muffin jadi kurang bagus.

Siapkan loyang muffin, oles mentega atau kasi cup kertas sebelum adonan dibagi. Jangan terlalu penuh isi loyangnya, ya kira-kira tigaperempat karena adonan bakal mengembang. Masukkan loyang ke oven yang sudah dipanaskan sebelumnya di suhu 200 derajat celcius dan panggang sekitar 20 menit atau sampai matang.

Hasilnya? Ya, lumayanlah. Teksturnya empuk mirip cake tapi terlalu manis ya padahal gulanya cuma pake 7 sendok teh. Baiklah, lain kali kurangi lagi pemakaian gula 😀

Selamat mencoba 😉

Dipublikasi di si kucing nge-dapur | Tag , | 5 Komentar

Vertige : Cliffhanger rasa Perancis

Lima orang pemuda pemudi harapan bangsa berniat untuk mendaki gunung Risjnak yang terletak di Kroasia. Fred, Karine, Chloe dan Guillame telah berteman lama bahkan Chloe dan Guillaume sempat merenda kasih sebelum akhirnya bubar jalan dan tidak bertemu satu sama lain selama 4 tahun. Situasi bertambah rancu karena Chloe saat itu membawa serta pacarnya, Loic, dalam misi pendakian gunung Risjnak.

Sesampainya di kaki gunung ternyata jalur pendakian tertutup reruntuhan batu dan tidak bisa dilewati. Tidak hilang akal, Fred nekat memotong jalan dan meneruskan pendakian. Anggota rombongan yang lain pun terpaksa mengikuti keputusan nekat Fred, si ketua rombongan, yang terus menerus meyakinkan mereka bahwa jalur pendakian ini akan berlangsung aman dan menyenangkan.

Mereka terlihat begitu menikmati pendakian itu, terutama Fred yang sangat percaya diri dan gembira dapat melintasi jembatan gantung terpanjang di Eropa. Hanya Loic yang tampak memucat dan setengah mati mengeluarkan seluruh kemampuan dan keberaniannya agar terlihat jantan di mata Chloe. Musibah berawal saat Karine yang mendapat giliran terakhir melintasi jembatan gantung. Kabel jembatan gantung terputus sedangkan Karine masih berada di tengah jembatan. Saat itu nyawanya hanya bergantung pada seutas lifeline yang juga tak akan bertahan lama.

Tenang saja, Karine selamat sampai ke seberang. Tapi sampai di bagian ini mereka harus terus melanjutkan perjalanan hingga ke gondola untuk menuruni gunung. Tidak ada jalan kembali. Dan percayalah, adegan jembatan gantung itu hanya appetizer dari sisa adegan-adegan menegangkan dalam film ini. Situasi menjadi semakin seru begitu rombongan pendaki ini menyadari bahwa mereka tidak sendiri. Ada sesuatu yang mengincar keberadaan mereka. Iblis yang lahir di ketinggian lebih dari 3000 kaki.

Film berdurasi 90 menit ini mengalir cepat. Adegan aksi yang bikin penonton meringis dan menjerit ngeri terus disajikan tanpa ampun. Sesekali penonton diberi jeda untuk menarik nafas lalu kembali memacu jantung menyaksikan para karakter memperjuangkan hidup mereka. Film ini terasa lebih seru begitu mengetahui keseluruhan film dilakukan langsung oleh para pemain film tanpa pemain pengganti. Hal tersebut dijelaskan sang sutradara, Abel Ferry, yang menyempatkan hadir dan memberikan sambutan dalam bahasa Indonesia yang terpatah-patah sebelum film ditayangkan.

Saya belum pernah menyaksikan film Perancis dengan genre horror, thriller atau semacamnya. Begitu melihat trailer film, saya pikir bakal mirip dengan salah satu film Sylvester Stallone berjudul Cliffhanger. Tapi lagi-lagi saya salah sangka. Lebih tepat kalau disebut Cliffhanger ketemu Jason Voorhees ditambah cita rasa Perancis. Rasanya lumayan juga. Walau ada beberapa hal yang menggangu:

1. Kenapa juga mesti alih bahasa jadi inggris? Ndak enak didengar.

2. Adegan aksi penuh laga yang berdarah-darah tapi lucunya ndak ada memar atau lebam.

3.  Lucu liat para pendaki ini. Mau mendaki gunung yang tingginya 1500-an meter tapi perlengkapan minim, cuman backpack yang kalah gede dengan tas ransel anak SD :p

4. Penonton di kiri kanan saya mengganggu buanget. Yang kanan heboh melihat jagoannya yang cakep sedang berjuang hidup. Yang sebelah kiri? Heboh bergoyang ke kanan ke kiri sambil jerit-jerit … bahkan untuk adegan yang sebenarnya ndak serem sama sekali *asah parang*

Dipublikasi di tontonan si kucing | Tag , , | Meninggalkan komentar

Karya yang Diakui

Kemarin saya menerima email dengan subject 100 foto kepergok membaca. Saya hanya membaca isinya sepintas lalu dan mengira email ini hanya dimaksudkan sebagai tanda terimakasih karena telah berpartisipasi mengirimkan foto untuk kegiatan World Book Day. Hingga sore hari saya menerima telepon dari orang yang mengaku sebagai anggota panitia World Book Day dan memberi kabar bahwa foto yang saya kirimkan telah terpilih menjadi salah satu foto yang akan dipamerkan dalam rangkaian acara World Book Day Indonesia.

Kaget? Ya, tentu saja. Senang? Jangan ditanya lagi, rasanya saya bisa naik ke atas meja dan menari di atasnya. Setelah percakapan telepon itu selesai, saya membuka kembali email yang saya terima sebelumnya di pagi hari. Saya baca kembali email itu dari awal–kata demi kata. Dan airmata haru pun tak kuasa saya tahan saat mengetahui foto itu akan dipamerkan bersama 100 foto lainnya di Pasar Festival dan Museum Bank Mandiri lalu direncanakan untuk dicetak menjadi buku dan diluncurkan saat Pesta Buku Jakarta.

Buat saya ini adalah pencapaian dan pengakuan untuk hal yang telah saya lakukan bertahun-tahun. Hobi yang juga pernah membantu saya dan si adik menambah uang jajan, hobi yang menjadikan saya tukang foto saat acara keluarga, hobi yang juga mendekatkan saya dengan teman-teman yang saya kenal saat ini. Dan saya sadari hobi ini bukan lagi sekedar kesenangan pengisi waktu luang. Lebih dari itu, ia telah menjadi bagian dari saya.

Terimakasih perempuanapi yang telah memberi saya petuah soal hati dan percaya diri. Dan simbok, terimakasih … saya bisa kembali berani untuk bermimpi.

Dipublikasi di catatan si kucing | 8 Komentar

Le Concert

Andrei Filipov, seorang veteran konduktor orkestra terkenal yang dipecat karena mempekerjakan orang-orang Yahudi sebagai anggota orkestranya. 30 tahun sesudah itu nasib Andrei berubah drastis. Yang tadinya berpakaian klimis rapi dan dipuja-puja kemudian terpaksa bekerja sebagai tukang bersih-bersih di sebuah gedung pertunjukan. Tapi hasratnya untuk memimpin orkestra tak terbendung. Sesekali Andrei mencuri waktu untuk turut serta saat sesi latihan grup orkestra Bolshoi diadakan di gedung pertunjukan tersebut.

Dan datanglah kesempatan itu berupa surat undangan Chatelet Perancis untuk grup orkestra Bolshoi. Fax surat undangan diterima Andrei yang kebetulan sedang bekerja di dekat mesin fax. Tanpa pikir panjang Andrei menyambar surat undangan tersebut dan berencana untuk membentuk grup orkestranya sendiri lalu tampil di Prancis.

Waktu yang tersedia hanya 2 minggu sebelum pertunjukan dilaksanakan. Kalang kabut Andrei dibantu oleh sahabat karibnya, Sacha, merekrut manajer grup dan juga mengumpulkan 55 orang pemain musik. Para pemain musik yang terkumpul berasal dari latar belakang yang beragam dengan karakter unik. Kakek-kakek penderita asma, penjual sayur, kuli angkut barang, ketua suku Gypsi bahkan pengisi background musik untuk film porno.

Andrei memilih Tchaikovsky Violin Concerto untuk ditampilkan pada malam pertunjukan. Anne Marie Jacquet, pemain biola terkenal asal Perancis, diminta untuk jadi solois di pertunjukan itu. Anne Marie langsung menyanggupi begitu mendengar akan bergabung dengan grup orkestra Bolshoi yang terkenal dan untuk pertama kalinya pula bagi Anne Marie untuk memainkan Tchaikovsky bersama orkestra.

Ternyata pilihan Andrei untuk memainkan Violin Concerto juga keinginannya untuk merekrut Anne Marie sebagai solois bukannya tanpa alasan. Semua itu bersangkutan dengan masa lalu Andrei saat berjaya sebagai konduktor.  Rahasia masa lalu yang memberatkan langkah Andrei dan menghantuinya selama 30 tahun. Sikap Andrei malah membuat Anne Marie menyurutkan niatnya menjadi solois karena mengira pertunjukan ini tidak akan berhasil. Bahkan gladi bersih yang sedianya dilaksanakan sehari sebelum pertunjukan pun tidak terlaksana karena anggota grup yang mangkir dari jadwal.

Dan di penghujung film ini, masing-masing karakter harus berhadapan dengan ketakutan dan rasa bersalah pada masa lalu untuk mewujudkan mimpi yang telah terkubur 30 tahun.

——————————————————————————————————————————————–

Saya berharap banyak dari film ini terutama karena kecewa luar binasa untuk ending film yang saya pilih sebelumnya, L’Heure d’Ete. Syukurlah hasilnya malah melebihi harapan yang saya pancang tinggi-tinggi. Cerita yang dipaparkan dengan rapi dan disajikan dengan tepat. Tidak bertele-tele seperti umumnya film Eropa (terutama Perancis). Akting pemainnya jempolan dan dialog dua bahasa, rusia dan perancis, terasa segar karena humor yang terselip di antara dua bahasa tersebut. Dan bersiaplah dengan kejutan di akhir film ini. Saat saya mengira bahwa saya sudah bisa menebak akhir cerita dan ternyata saya … salah.

Dan jangan khawatir, anda tidak perlu menjadi penikmat musik klasik untuk merasakan emosi yang disampaikan film ini. Paling tidak, saya dan seorang teman (yang duduk terpisah) keluar dari bioskop dengan mata basah memerah karena haru.

PS: mending nonton film ini di bioskop dan rasakan bahana orkestra yang bikin merinding kagum

Dipublikasi di tontonan si kucing | Tag , , , | 2 Komentar

Gebyar Masa Muda

Minggu malam, 28 Maret yang lalu saya kembali menjelma menjadi gadis remaja. Penyebabnya? Sebut saja dua oknum asal Norwegia yang bergabung dalam grup musik aliran folk acustic, Kings of Convenience. Jauh-jauh sebelum hari H, mya sudah mendesak untuk segera berburu tiket di Aksara. Keputusan yang tepat ternyata, apalagi mendengar rumor kalau 3000 tiket untuk konser ini habis dalam waktu singkat. Harus saya akui kalau saya ini bukanlah fans fanatik yang sampai mengejar dan bela-belain nonton konser lalu menyisihkan uang untuk mengantongi tiket yang harganya ndak murah. Tapi ndak ada salahnya dicoba, pikir saya. Apalagi dua orang anggota keluarga kucing, mya dan ipied, ikut bergabung.

Dan tibalah hari yang ditunggu. Saya dalam keadaan lelah setelah perjalanan panjang menunaikan pekerjaan di luar kota tapi tetap memaksakan diri untuk hadir. Pukul 6 kurang 15 menit, saya sudah hadir di depan ruang ballroom Ritz Carlton, Pacific Place. Menunggu ipied dan mya membawakan tiket yang saya titipkan. Tidak lama saya mengenali wajah mereka dari sisi elevator lantai 4. Sumringah, jelas terlihat di wajah mereka. Ipied lalu mengenalkan seorang temannya, Tantru *horeee ada kenalan baru*. Ndak langsung masuk ke area ballroom tapi masih sibuk urus ini itu. Janjian dengan teman yang lain, yang lapar pengen beli cemilan, yang haus juga pengen minum. Sementara makanan dan minuman tidak boleh dibawa masuk ke lokasi acara jadi dengan tergopoh-gopoh makanan dan minuman itu dihabiskan.

Antrian memanjang apalagi dengan ketatnya pemeriksaan di pintu masuk dan bertambah parah karena pemeriksaan kembali dilakukan di depan pintu utama ballroom *tepok jidat*. Kebanyakan penonton harus rela menitipkan kameranya di deposit counter, beberapa berhasil meloloskan kameranya entah dengan cara apa.
Pertunjukan malam itu dibuka oleh Hollywood Nobody dan White Shoes & The Couples Company. Pembuka yang baik untuk memanaskan suasana malam itu. Lalu disusul dengan penampilan Jens Lekman yang ternyata tidak sehambar yang saya rasakan saat menikmati musiknya melalui media Youtube. Ipied bilang, Jens Lekman itu mirip pengamen dengan casing bule 😆 Analogi yang baik sih sebenarnya karena saya pun merasakan demikian. Interaksi dengan penonton juga terjalin baik meski sempat terbengong-bengong dengan lagunya Postcard to Nina. Pokoknya kita semua sepakat kalau Jens Lekman itu tukang curhat, coba dengar aja lagu-lagunya 😆
Dan akhirnya sampailah saat-saat puncak, penampilan yang kami tunggu-tunggu … Erlend dan Eirik di depan mata. 24-25 dengan cantik membuka penampilan mereka pada malam itu. Bahagia yang melesak-melesak tak kuasa saya tahan dan keluar dalam jeritan-jeritan liar tak terkendali. Ah, maafkan saya ya karena tidak terpikir dengan cara apalagi rasa ini ingin disampaikan. Saat Cayman Island dinyanyikan saya ikut bernyanyi dan melirik ke samping lalu mendapati ipied yang meleleh. Haduuuh, saya tidak yakin maskara yang saya pakai ini waterproof. Jadi lebih baik saya simpan saja airmata haru itu 😀
Momen yang ingin terus saya kenang dan simpan dalam kepala. Tak ada kamera pun tak apa, suara mereka sudah saya simpan rapat dalam ingatan saya. Erlend yang bertingkah konyol dan sangat humble lalu Eirik yang manis dan tidak banyak bicara. Lalu teman-teman terbaik yang menemani malam gila itu, terimakasih ya karena ada kalian jadinya ndak malu-maluin untuk bertransformasi jadi ababil 🙂
Semoga momen ini bisa terulang kembali di masa depan. Semoga …
Dipublikasi di si kucing dan musik | 11 Komentar

Derai Tawa Dalam Kesederhanaan

Dari seberang Situ Lembang, dua kendaraan bermotor–yang biasa disebut odong-odong–bergerak perlahan mengitari Situ. Bagian belakangnya penuh sesak dengan anak-anak. Kaki mereka bergelantungan keluar dari bak sederhana yang dikaitkan ke bagian belakang sepeda motor. Tak berapa lama kemudian riuh rendah tawa anak-anak memecah sunyi. Terlihat anak-anak dengan hebohnya melepas pakaian mereka dan hanya menyisakan celana dalam lalu terjun bebas ke Situ yang  dangkal itu.

Bapak-bapak tua yang telah lebih dulu datang dan melempar kail pun tidak merasa terganggu dengan kehadiran anak-anak itu. Bahkan sepertinya mereka juga ikut mengawasi anak-anak yang datang tanpa kawalan orangtua. Seorang bapak berteriak mengingatkan dengan sedikit mengancam, “Eh, jangan ke tengah lu ye. Bisa mampus ntar”. Mya dan pawangkucing segera mendekati kerumunan anak-anak itu dan dengan antusias memotret dari dekat.  Anak-anak itu pun dengan senang hati untuk berinteraksi dengan kami juga meminta difoto. Dengan segera aura gembira menular ke semua pengunjung Situ Lembang kecuali yang lagi asyik masyuk pacaran.

Anak-anak itu berpose dengan gaya yang hampir seragam, senyum manis dan jari telunjuk juga jempol yang membentuk huruf J. Jakmania, kata mereka. Ternyata sedari kecil sudah didoktrin jadi The Jak :mrgreen: Keberadaan kami ternyata malah membuat anak-anak itu berani beraksi. Berulang kali mereka memamerkan kebolehannya salto ke dalam Situ. Ngeri, salah-salah kepala anak-anak itu bisa kena pinggiran Situ. Dengan tenaga yang seperti meledak-ledak, mereka keluar masuk Situ dan melompat lagi … supaya difoto.

Seorang anak lelaki menangkap perhatian saya. Lagaknya yang kemayu, tuturnya lembut dan pakaian yang dikenakannya lebih rapi dari anak-anak lain. Dia tidak ikut berenang di Situ seperti teman-teman sebayanya yang lain. Anak itu hanya menonton temannya dari tepian dan bermain bersama anak-anak yang lebih kecil. Malu-malu dia menghampiri saya dan meminta untuk dipotret juga. Segera saja senyum manis merekah dari bibirnya. Bibir yang dimerah-merahkan entah dengan apa. Tiba-tiba saja pikiran buruk menyergap dan saya merasa ada sesuatu yang salah telah terjadi pada anak manis itu. Entah apa tapi saya merinding dan tak mampu mengenyahkan pikiran buruk mengenainya.

“Setengah dua belas. Hayooo pulang.”  Ah, ternyata waktu mereka untuk bersenang-senang telah habis. Pemilik odong-odong mengumpulkan anak-anak pukul setengah dua belas untuk kembali. Dengan terburu-buru anak-anak itu naik ke permukaan dan mengutip pakaian serta sandalnya.  Dan Situ Lembang pun kembali sepi. Senyap. Tapi kegembiraan bersama mereka masih tetap bersisa sampai saat ini 🙂

Dipublikasi di catatan si kucing | 10 Komentar

Sepenggal Percakapan

Akhirnya kemarin bisa meluangkan waktu untuk nonton  bersama Mama di Plaza Senayan. Untungnya hari itu ada janji temu dengan klien di lokasi yang ndak jauh dari PS, jadi ndak perlu buang-buang waktu bergumul dengan lalu lintas kota Jakarta yang bikin sakit kepala dan sakit hati. Sesuai rencana, saya dan Mama membeli tiket untuk film India anyar yang konon katanya menguras air mata dan menyayat perasaan. Dan ya memang film My Name is Khan layak tonton, bagus sih tapi rasanya ndak sampai luar biasa seperti yang digaungkan selama ini. Film berdurasi panjang sekitar 2,5 jam tapi bisa membuat kami betah memelototi layar bioskop.

Sebenarnya kali ini bukan film ini yang ingin saya bahas, review yang lebih baik sudah bisa dibaca disini. Dalam perjalananan pulang ke rumah dengan menumpang jasa taksi, saya mengobrol dengan Mama. Bukan membahas film itu tapi hal yang lainnya. Sepupu saya menelepon Mama sebelumnya dan mengeluhkan keputusasaannya untuk berusaha memiliki momongan. Iya, sudah hampir 5 tahun menikah tapi mereka belum memiliki keturunan. Setelah itu Mama malah membahas sebuah artikel yang pernah dibacanya di koran Kompas mengenai segelintir orang yang sama sekali tidak berkeinginan mempunyai anak–tapi bukan karena tidak bisa, hanya tidak ingin. Saya sudah bersiap-siap menulikan pendengaran saya karena Mama pasti meracau panjang lebar betapa terkutuknya orang yang menikah tapi sama sekali tidak mau punya anak.

Dugaan saya salah besar. Mama justru ndak bersikap reaktif seperti biasanya, sebaliknya malah bercerita kisah dan alasan keputusan mereka yang tidak ingin memiliki anak. Saya jadi merasa malu sendiri sudah berprasangka yang ndak-ndak terhadap Mama. Mama mengutip tulisan di artikel itu dan menceritakan kembali pada saya, bagaimana rencana mereka yang berkeluarga tanpa anak. Bebas dari tanggungjawab berat untuk menjadi orangtua yang baik dan mendidik serta membesarkan generasi keturunan mereka. Mama bilang hal yang seperti itu kalau terjadi di keluarga dekat kami pasti jadi gunjingan. Saya pun menyetujui pernyataan itu dan bercerita tentang dua orang teman dekat saya yang sudah cukup berumur tapi belum menikah.

Keadaan yang berbeda tapi punya kesamaan, menurut saya. Keputusan kontroversial untuk ukuran orang Indonesia saat perempuan berusia matang tidak segera menikah–bahkan memutuskan untuk tidak menikah sama sekali–dan juga saat sepasang suami istri memutuskan untuk tidak memiliki anak. Sama-sama kontroversial kan? Oh ya, kembali ke cerita dua orang teman perempuan itu. Saya sudah berteman dengan mereka selama lebih dari 7 tahun dan tinggal bersama di rumah kost selama lebih dari 2 tahun sudah cukup mebuat kami dekat satu sama lain layaknya saudara perempuan.

Pertemuan terakhir kami lebih banyak diisi dengan obrolan yang mendalam dibanding haha hihi. Di usia mereka yang sudah lebih dari 30 tahun–bahkan salah satunya mendekati 35 tahun–mereka belum menikah. Salah satu dari teman saya itu telah menetap di Sidney selama 3 tahun dan telah mendapatkan permanent resident lalu mengakui kalau kepindahannya ke Australia karena tidak tahan dengan keadaan yang harus dia hadapi disini. Teman-teman saya bilang mereka sering kali ndak tahan dengan sikap yang mereka terima dari lingkungan luar karena status lajang yang mereka sandang. Pandangan kasihan, nada bicara yang lagi-lagi mengasihani dan usaha setiap orang–mulai dari saudara dan keluarga hingga tetangga–yang menjadi mak comblang itu sangat mengganggu. Dan kedua teman saya tidak menutup diri dari hubungan dengan lawan jenis, tidak menutup harapan untuk menikah dan membentuk keluarga bahagia. Mereka tetap berkeinginan untuk menikah, hanya saja belum menemukan orang yang tepat untuk cukup meyakinkan mereka untuk melangkah ke jenjang pernikahan.

Selama saya berbicara, Mama hanya diam memandangi saya lalu bertanya saat saya menuntaskan cerita. “Mama juga pernah seperti itu ke kamu ya?” dan saya pun mengangguk cepat. Selanjutnya yang ndak disangka-sangka Mama mengusap pelan bahu saya. Entah kenapa, usapan itu terasa seperti ucapan maaf yang halus. Dan sepertinya hubungan saya dan Mama pun menjadi jauh lebih dalam dari sebelumnya.

Sepertinya kita perlu lebih banyak waktu lagi untuk saling mengerti ya, Ma 🙂

Dipublikasi di catatan si kucing | 4 Komentar